## Pelukan yang Menyembunyikan Dosa Hujan musim gugur mengguyur kota. Di bawah payung merah, Lian berdiri mematung di depan gerbang universitas. Lima tahun. Lima tahun sejak malam itu, lima tahun sejak janji yang diucapkannya terhempas badai ambisi. Sekarang, dia kembali. Di kejauhan, sosok itu. Tinggi, tegap, sama persis seperti yang diingatnya. Zhou Lin, *Cahaya* yang dulu menerangi hidupnya, kini memancarkan aura dingin seorang CEO sukses. Ia tertawa, rambutnya tersapu angin, sambil memeluk seorang wanita anggun bergaun putih. Lian meremas gagang payungnya. Dulu, pelukan itu miliknya. Dulu, tatapan teduh itu hanya untuknya. Dulu, ia adalah dunia bagi Zhou Lin. Ia mendekat, langkahnya pelan bagai hantu masa lalu. Zhou Lin menoleh. Matanya membesar, secercah *kejutan* terlukis jelas di wajahnya sebelum tertutup topeng profesionalitas. "Lian?" bisiknya, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan. "Zhou Lin," sahut Lian, suaranya setenang danau yang membeku. Wanita di samping Zhou Lin menatap mereka bergantian, kebingungan terpancar di matanya. Zhou Lin berdeham, menarik Lian menjauh dari keramaian. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya, nada suaranya hati-hati. Lian tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Zhou Lin. Kulitnya terasa dingin di bawah ujung jarinya. "Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku," bisiknya. Zhou Lin menegang. Ia meraih tangan Lian, menggenggamnya erat. "Kau tahu aku tidak bisa. Aku... aku sudah berjanji pada orang lain." **KEBOHONGAN.** Kata itu berteriak di benak Lian. Janji. Kata yang sama yang dulu Zhou Lin ucapkan padanya, di bawah bintang-bintang musim panas, ketika mereka masih anak-anak yang polos dan saling mencintai. Janji yang ia hancurkan demi karir, demi kekuasaan. Lian menatap mata Zhou Lin, mencari sisa-sisa kejujuran yang dulu ada di sana. Yang ia temukan hanya penyesalan yang terlambat, terkubur di bawah lapisan ambisi. "Aku tahu," jawab Lian, suaranya lirih. "Aku hanya ingin kau tahu... aku memaafkanmu." Lalu, ia menarik Zhou Lin ke dalam pelukan. Pelukan yang hangat, pelukan yang menggetarkan. Pelukan yang menyembunyikan *dosa*, pelukan yang menyembunyikan rencana. Pelukan yang terakhir. Di dalam pelukan itu, Lian membisikkan sesuatu di telinga Zhou Lin. Kata-kata yang membuat mata pria itu membulat, kata-kata yang menghancurkan topeng kesombongan dan menampakkan ketakutan yang mendalam. Lian melepaskan pelukannya. Zhou Lin terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Wanita bergaun putih itu menatap mereka dengan tatapan bertanya. Lian tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Selamat menikmati hidupmu, Zhou Lin," ucapnya sebelum berbalik dan berjalan menjauh, menghilang di balik hujan yang semakin deras. Lima tahun lalu, Zhou Lin meninggalkannya. Lima tahun lalu, ia merenggut mimpinya. Sekarang, takdir dengan tangan dingin akan mengambil semuanya dari Zhou Lin, satu per satu, dengan cara yang paling *menyakitkan*. Cinta mungkin memaafkan, tapi dendam tak pernah lupa, dan takdir selalu punya cara untuk menyeimbangkan neraca keadilan.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Non
Share on Facebook