**Senja Merah di Atas Lembah Terlupakan** Hujan menggigil membasahi atap paviliun usang itu. Setiap tetesnya bagai bisikan masa lalu, menghantui Lin Wei, sosok anggun berbalut gaun sutra berwarna abu-abu. Dulu, gaunnya selalu merah menyala, mencerminkan api cintanya pada Zhang Lei. Api yang kini telah padam, menyisakan abu pahit di hatinya. Zhang Lei berdiri di ambang pintu, bayangannya yang tinggi menjulang patah oleh cahaya lentera yang nyaris padam. Wajahnya, yang dulu Lin Wei puja dengan segenap jiwa, kini tampak keras dan asing. Garis-garis halus di sekitar matanya, jejak waktu dan dosa, menorehkan luka lebih dalam di hati Lin Wei. "Wei," desis Zhang Lei, suaranya serak bagai daun kering yang diinjak. "Sudah sepuluh tahun." Lin Wei tidak menjawab. Aroma tanah basah dan bunga teratai yang membusuk memenuhi udara, aroma yang dulu mereka nikmati bersama di taman rahasia mereka. Dulu, mereka bersumpah untuk saling mencintai hingga akhir hayat. Dulu. Kata itu kini terasa seperti kutukan. "Aku tahu kau membenciku," lanjut Zhang Lei, mendekat perlahan. "Aku *pantas* menerima kebencianmu." Lin Wei mengangkat wajahnya, matanya yang dulu penuh cinta kini memancarkan dinginnya batu giok. "Benci? Oh, Zhang Lei... Kau terlalu meremehkanku. Benci adalah emosi yang terlalu sederhana untuk melukiskan apa yang kurasakan." Ia berbalik, menghadap danau yang beriak diterpa hujan. Pantulan cahaya lentera di air tampak seperti ribuan jarum perak menusuk hatinya. Sepuluh tahun... Sepuluh tahun ia merencanakan segalanya dengan *sabar*. Setiap langkah, setiap senyum palsu, setiap kata manis yang ia ucapkan padanya... semuanya adalah bagian dari rencana. Zhang Lei mendekat, meraih tangannya. Lin Wei tidak menepisnya. Sentuhan itu terasa asing, hampa. Dulu, sentuhan ini membangkitkan gairah membara. Sekarang, hanya ada jijik yang mendalam. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan," bisik Zhang Lei, suaranya bergetar. "Tapi aku... aku menyesal, Wei. Aku benar-benar menyesal." Lin Wei tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Penyesalan tidak bisa mengembalikan apa yang telah kau ambil, Zhang Lei. Tidak bisa mengembalikan *kehormatan*, tidak bisa mengembalikan *keluarga*ku... tidak bisa mengembalikan *diriku* yang dulu." Ia melepaskan genggaman Zhang Lei, melangkah ke arah lentera yang cahayanya semakin redup. Ia meniupnya hingga padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan total. "Kau tahu, Zhang Lei," bisiknya dalam kegelapan, suaranya nyaris tak terdengar. "Selama ini, kau bertanya-tanya siapa yang telah menghancurkan kerajaanmu, yang telah membunuh seluruh keluargamu satu per satu... *Aku*lah dalangnya. *Aku* yang telah meracuni anggurmu, *Aku* yang mengirimkan para pembunuh bayaran itu. Dan yang terpenting… *Aku* yang membiarkan putramu tumbuh dalam pelukan musuh, mengira merekalah keluarganya." Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar suara Zhang Lei yang tercekik, kemudian... keheningan. Namun, Lin Wei tahu... ini belum berakhir. Ada satu rahasia lagi yang belum terungkap, rahasia yang akan mengubah segalanya: _**Putra yang ia biarkan tumbuh dalam pelukan musuh itu... sebenarnya adalah putri yang ia sembunyikan demi melindunginya dari kematian yang akan datang.**_
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bisnis Rumahan
Share on Facebook