Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Kau memegang tanganku, tapi kau sedang menandatangani akhir kita': **Judul:** Kau memegang tanganku, tapi kau sedang menandatangani akhir kita. **Latar:** Lorong Istana Yan yang sunyi, diterangi obor yang menari-nari, menciptakan bayangan panjang yang bermain di dinding batu. Kabut tipis merayap masuk dari taman di luar, membawa serta aroma melati dan kesedihan yang tak terucapkan. **Karakter:** * Lin Wei: Seorang pria yang kembali setelah lima tahun dianggap tewas dalam pertempuran. * Empress Xia: Wanita yang dicintai Lin Wei, sekarang adalah janda Kaisar. **Kisah:** Kabut menyelimuti langkah Lin Wei saat ia memasuki lorong. Lima tahun. Lima tahun ia menghilang, dianggap debu di medan perang. Kini, ia berdiri di hadapan Istana Yan, tempat cintanya bernaung. Langkahnya pelan, seiring jantungnya yang berdebar tak menentu. Obor-obor di dinding seakan menyorot kedatangannya, mempertontonkan wajahnya yang *keras* dan *berubah*. Di ujung lorong, berdiri Empress Xia. Gaun sutra hitamnya mengalir seperti malam, wajahnya pucat namun anggun. Matanya, dulu berbinar karena cinta, kini redup oleh kesedihan...atau mungkin sesuatu yang lain. "Wei..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di antara hembusan angin malam. Lin Wei mendekat, meraih tangannya. Sentuhan itu terasa *familiar*, namun juga *asing*. "Xia, aku kembali." Empress Xia membalas genggamannya, namun matanya berkilat aneh. "Kau...kau terlambat." "Terlambat untuk apa?" Lin Wei bertanya, merasakan dingin yang menjalar di tulang punggungnya. "Terlambat untuk menyelamatkan dirimu sendiri," jawab Empress Xia, suaranya berubah, *tajam* dan *dingin*. Ia mengeluarkan gulungan kertas dari balik lengan bajunya. "Kau tahu, Wei, kematianmu lima tahun lalu adalah awal dari rencanaku. Gulungan ini adalah dekrit. Dekrit yang menyatakanmu sebagai pengkhianat, dan memerintahkan...eksekusimu." Lin Wei menatap gulungan itu, lalu kembali menatap Empress Xia. "Aku tidak mengerti. Mengapa?" Empress Xia tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk Lin Wei berdiri. "Karena cintamu adalah kelemahanku. Kelemahan yang harus kuhilangkan. Aku harus mengamankan posisiku, Wei. Menjadi *Ratu yang Kuat*, bukan sekadar *janda yang berduka*." "Tapi...aku mencintaimu," bisik Lin Wei, rasa sakit menusuk hatinya lebih dalam daripada pedang mana pun. "Cinta adalah kemewahan yang tidak bisa kubiarkan," balas Empress Xia, tatapannya *tanpa ampun*. "Kau tahu, Wei? Orang-orang selalu mengira aku adalah korban. Korban perang, korban kehilangan... Tapi mereka salah." Ia mengangkat gulungan dekrit lebih tinggi. "Akulah yang memegang kendali sejak awal. Dan *kau*, Sayangku, hanyalah bidak dalam permainanku." Ia memberikan isyarat, dan dari balik pilar, muncul para pengawal dengan pedang terhunus. Saat para pengawal menyerbu, Lin Wei menatap Empress Xia sekali lagi. Kebenaran menghantamnya seperti gelombang dingin: cintanya telah dibutakan. Empress Xia menatap balik, tanpa penyesalan. "Kau memegang tanganku, tapi kau sedang menandatangani akhir kita. Dan sekarang, aku memegangmu."
You Might Also Like: 191 Manfaat Skincare Lokal Lengkap
Share on Facebook