Cerpen Keren: Kau Mati Di Sisiku, Tapi Rasanya Seperti Dilahirkan Kembali
Kau Mati di Sisiku, Tapi Rasanya Seperti Dilahirkan Kembali
Malam di Gunung Cangshan terasa membeku. Salju turun tanpa henti, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang menipu – menyembunyikan darah yang merembes perlahan dari tubuh yang tergeletak di sana. Tubuh itu adalah Li Wei, pria yang dicintai dan dibenci oleh Lin Yue, wanita yang kini berlutut di sisinya.
"Wei..." bisiknya, suaranya pecah. Air mata membeku di pipinya, bercampur dengan lelehan salju. Di sekeliling mereka, dupa beraroma cendana mengepul, baunya berusaha mengalahkan aroma amis yang menyengat.
Dulu, aroma ini adalah saksi janji suci, sumpah setia abadi di bawah rembulan. Sekarang, aroma ini menjadi saksi pengkhianatan, janji yang dilanggar dan hati yang hancur.
Li Wei terbatuk, darah memuncrat dari mulutnya. "Yue... kau..."
Lin Yue menggenggam tangannya, erat. "Jangan bicara. Simpan tenagamu." Bohong. Dia tahu tidak ada lagi tenaga yang bisa disimpan. Dia tahu ini adalah akhir.
"Dulu... aku... mencintaimu..." ucap Li Wei terbata-bata.
"Dan aku membencimu," jawab Lin Yue, datar. Tidak ada amarah, tidak ada air mata lagi. Hanya kekosongan yang dalam, jurang tanpa dasar yang telah lama menganga di hatinya.
Kebencian ini lahir dari rahasia yang terkubur selama bertahun-tahun, rahasia yang terungkap bagai pisau berkarat yang menusuk jantung. Rahasia tentang kematian keluarganya, tentang pengkhianatan yang mendalam, tentang takdir yang dicuri darinya. Li Wei, pria yang dicintainya, adalah dalang di balik semua itu.
Malam ini, di tengah badai salju, Lin Yue telah membongkar semua rahasia itu. Di hadapannya, Li Wei mengakui segalanya. Setiap kebohongan, setiap pengkhianatan, setiap tetes darah.
"Aku tahu," kata Lin Yue, suaranya sedingin es. "Aku selalu tahu."
Dia mengangkat belati di tangannya. Belati itu berkilauan tertimpa cahaya bulan yang samar, memantulkan kegelapan yang bersemayam di matanya.
"Janji..." Li Wei berusaha meraihnya. "Janji di atas abu..."
Lin Yue mengabaikannya. Janji di atas abu adalah janji balas dendam. Janji yang telah lama ia ukir di hatinya.
Dia menusuk belati itu. Satu tusukan. Cukup.
Li Wei terdiam. Nafasnya berhenti. Matanya menatap kosong ke arah langit yang kelabu.
Lin Yue berdiri. Dia menatap mayat Li Wei, tidak ada penyesalan, tidak ada kesedihan. Hanya ketenangan yang aneh, seperti setelah badai besar mereda.
Dia membersihkan belati di salju, lalu membuangnya. Dia berbalik, meninggalkan mayat Li Wei di tengah hamparan putih yang membeku.
Balas dendam telah ditunaikan. Tapi balas dendam yang sejati bukanlah tentang darah dan kematian. Balas dendam yang sejati adalah tentang menghancurkan segala yang dicintai lawannya, perlahan dan kejam, sampai tidak ada yang tersisa.
Dia kembali ke kediaman Li Wei, ke tempat di mana keluarga Li yang sombong dan kejam berkumpul. Dia akan mengambil alih semuanya. Harta, kekuasaan, nama baik. Dia akan menghancurkan mereka dari dalam, satu per satu.
Dia memasuki gerbang, kepalanya terangkat tinggi, matanya berkilat penuh tekad.
Balas dendamnya akan sunyi seperti kematian, namun mematikan seperti racun.
Dan di ruangan yang gelap, di mana dupa masih mengepul, sebuah suara berbisik, "Giliranmu berikutnya, Ayah..."
You Might Also Like: Agen Kosmetik Modal Kecil Untung Besar