Wajib Baca! Mahkota Yang Menyala Di Tengah Api
Mahkota yang Menyala di Tengah Api
Aula emas Istana Kekaisaran terasa begitu luas dan dingin. Di bawah sorot lentera kristal yang megah, lantai marmer memantulkan bayangan panjang para pejabat istana. Setiap langkah kaki bergema, seolah mengumumkan kedatangan bahaya. Di balik senyum dan anggukan sopan, tatapan mereka tajam, menilai dan merencanakan. Bisikan pengkhianatan berdesir bagai angin malam di balik tirai sutra yang menjuntai.
Di tengah kekacauan tersembunyi ini, tumbuhlah sebuah cinta – terlarang, berbahaya, dan tak terhindarkan.
Li Wei, putri mahkota yang anggun dan berpendidikan, terikat oleh takdir untuk memerintah. Ia memiliki kecerdasan setajam pedang dan ambisi membara di dalam hatinya. Namun, di balik topeng ketenangan, ia menyimpan luka masa lalu yang mendalam, sebuah dendam yang membara pelan.
Lalu, hadirlah Jenderal Zhao Yun, pahlawan perang yang gagah berani dan setia. Tubuhnya dipenuhi bekas luka pertempuran, dan matanya menyimpan kebijaksanaan serta kesedihan. Ia mengabdi pada kekaisaran dengan seluruh jiwa raganya, tetapi hatinya terbagi ketika ia jatuh cinta pada Li Wei.
Cinta mereka adalah permainan takhta yang berbahaya. Setiap pertemuan rahasia di taman terlarang terasa seperti tarian di atas jurang. Janji cinta terucap bagai mantra yang bisa menyembuhkan atau menghancurkan. "Aku bersumpah akan melindungimu, Wei'er," bisik Zhao Yun suatu malam, di bawah cahaya rembulan yang pucat. "Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku."
"Lalu, siapa yang akan melindungiku dari dirimu, Jenderal?" balas Li Wei, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tahu, cinta Zhao Yun adalah pedang bermata dua.
Persaingan untuk takhta semakin sengit. Pangeran lain, kakak tiri Li Wei, bersekongkol untuk menjatuhkannya. Ia menggunakan segala cara, termasuk menyebarkan fitnah dan meracuni pikiran para pejabat. Zhao Yun berada di posisi yang sulit. Ia harus memilih antara kesetiaan kepada kekaisaran dan cintanya kepada Li Wei.
Saat istana bergejolak, pengkhianatan terungkap satu demi satu. Orang-orang terdekat Li Wei berbalik melawannya, dipicu oleh ambisi dan ketakutan. Ia merasa terpojok, dikhianati, dan sendirian.
Di tengah kekacauan itu, Li Wei menemukan kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya. Ia bukan lagi putri mahkota yang rapuh. Ia adalah seorang pejuang, seorang ratu yang siap merebut kembali haknya. Ia memanfaatkan kecerdasan dan pesonanya untuk memanipulasi musuh-musuhnya, menggunakan informasi rahasia yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
Puncak dari semua intrik itu terjadi pada malam penobatan. Pangeran kakak tiri berencana untuk membunuh Li Wei di depan umum dan merebut takhta. Namun, ia tidak menyadari bahwa Li Wei telah menyiapkan jebakan untuknya.
Di saat yang genting, Zhao Yun muncul di aula penobatan. Ia tidak berpihak pada siapa pun. Ia hanya mengikuti hatinya. Dengan pedang terhunus, ia menghadapi Pangeran kakak tiri, memulai pertarungan yang menentukan nasib kekaisaran.
Namun, yang paling mengejutkan adalah ketika Li Wei mengungkapkan rencana sebenarnya. Selama ini, ia berpura-pura lemah dan terpojok. Ia sengaja membiarkan musuh-musuhnya mendekat, untuk kemudian menghancurkan mereka dalam satu gerakan. Dengan senyum dingin di bibirnya, ia memerintahkan para pengawal untuk menangkap Pangeran kakak tiri dan semua pengkhianat yang bersekongkol dengannya.
KEADILAN ditegakkan.
Pangeran kakak tiri yang angkuh dan berkuasa itu jatuh berlutut, memohon ampun. Namun, Li Wei tidak menunjukkan belas kasihan. "Kau telah meremehkanku," katanya, suaranya dingin dan mematikan. "Kau pikir aku lemah karena aku seorang wanita. Kau salah. Aku adalah api yang membara di tengah kegelapan."
Dengan satu anggukan, Li Wei memberikan perintah. Pangeran kakak tiri dibawa pergi, menghadapi hukuman atas pengkhianatannya.
Li Wei naik takhta, bukan hanya sebagai seorang ratu, tetapi sebagai seorang PEMBALAS. Ia memerintah dengan tangan besi, memberantas korupsi dan ketidakadilan. Ia menjadi legenda, seorang penguasa yang ditakuti dan dihormati.
Lalu, bagaimana dengan Zhao Yun? Ia memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan istana. Ia tidak bisa menjadi bagian dari dunia kekuasaan dan intrik yang telah mengubah Li Wei.
Di akhir kekuasaan yang baru dimulai, Li Wei berdiri di balkon istana, memandangi langit malam. Di tangannya, ia menggenggam sebuah liontin yang diberikan oleh Zhao Yun. Air mata mengalir di pipinya. Ia telah memenangkan permainan takhta, tetapi ia telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga.
Dan saat angin bertiup melalui rambutnya, ia bertanya-tanya apakah CINTA yang ia tinggalkan akan kembali menghantuinya.
Takhta telah direbut, dendam terbalaskan, tapi cerita baru saja dimulai, dan bayangan masa lalu terus menari di dinding istana, menunggu saatnya untuk mengungkapkan diri kembali.
You Might Also Like: Arti Mimpi Disengat Ikan Sapu Sapu