Dracin Terbaru: Aku Mencintaimu Sampai Akhir Dunia, Bahkan Setelah Dunia Berhenti Berputar
Gerimis abadi menyelimuti kota Jiangnan, mengaburkan garis langit dan bumi. Di antara rintik yang tak henti, Lian Hua, seorang pelukis muda, merasakan dejavu yang menghantui. Setiap sudut jalan, setiap aroma teh melati, seakan menarik kenangan dari sumur yang dalam. Ia tak mengerti, mengapa ia merasakan kesedihan yang begitu purba, seolah kehilangan sesuatu yang tak pernah dimilikinya.
Lukisannya pun aneh. Bunga teratai putih yang semula ia ciptakan dengan ceria, mendadak ternoda warna darah. Air matanya menetes tanpa izin, membasahi kanvas yang masih basah.
Suatu malam, saat festival lampion tiba, Lian Hua tanpa sadar menuju sebuah paviliun kuno di tepi sungai. Di sana, berdiri seorang pria dengan jubah hitam, aura kesedihan terpancar darinya. Tatapannya begitu INTENS, seolah mengenal Lian Hua lebih dari yang ia kenal dirinya sendiri.
"Kau... siapa?" bisik Lian Hua, tenggorokannya tercekat.
Pria itu tersenyum getir. "Dulu, aku adalah Wei Lan. Kekasihmu... dan korban pengkhianatan."
Kata-kata itu menghantam Lian Hua bagai gelombang TINGGI. Bayangan-bayangan mengerikan mulai bermunculan: istana megah, intrik politik, dan seorang wanita dengan senyum manis yang menusuk dari belakang.
Wei Lan, seorang pangeran yang dicintai rakyat, dikhianati oleh selir kesayangannya, Mei Ling, yang bersekongkol dengan saingan politiknya. Lian Hua, sang kekasih setia, tewas bersamanya, korban intrik keji yang memperebutkan tahta.
"Mei Ling..." gumam Lian Hua, matanya berkilat amarah.
"Dia... bereinkarnasi sebagai Nona Li, putri seorang saudagar kaya," Wei Lan menjelaskan. "Kekuatan takdir mempertemukan kita lagi."
Lian Hua tertegun. Nona Li, gadis yang selalu berusaha mendekatinya, gadis yang senyumnya selalu terasa PALSU. Sekarang, semuanya masuk akal.
Wei Lan memohon, "Dendam hanya akan membawa kesengsaraan. Biarkan ia hidup dalam penyesalan."
Lian Hua menolak. Balas dendamnya takkan berupa darah. Ia tahu, Nona Li sangat menginginkan pengakuan atas bakatnya. Lian Hua, dengan kepiawaiannya sebagai pelukis, akan memastikan lukisan Nona Li tak pernah dinilai, tak pernah diakui. Ia akan membiarkan Nona Li terkurung dalam penjara kegagalannya sendiri.
Malam itu, Lian Hua membuat keputusan. Ia mendekati Nona Li, memujinya, berpura-pura menjadi sahabat. Ia menggunakan keahliannya untuk mengarahkan Nona Li ke jalan yang salah, menjauhkannya dari potensi sebenarnya. Nona Li, dengan senang hati, mengikuti setiap saran Lian Hua, tanpa menyadari jebakan yang menantinya.
Pada pameran seni terbesar di kota, lukisan Lian Hua dipuji selangit, sementara lukisan Nona Li dicemooh dan dilupakan. Hati Nona Li hancur berkeping-keping. Ia dikucilkan, diremehkan, sama seperti yang ia lakukan pada Lian Hua di kehidupan sebelumnya.
Wei Lan menyaksikan semuanya dari kejauhan, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, ini bukan akhir.
Lian Hua menatap Wei Lan, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Aku tidak menghukumnya, aku hanya... MENGEMBALIKAN apa yang menjadi hakku."
Di bawah gerimis abadi, mereka berdua berdiri, terhubung oleh janji tak terucap yang lebih kuat dari kematian, lebih abadi dari waktu, sebuah perjanjian yang akan dilanjutkan di kehidupan berikutnya: sampai akhir dunia, jiwaku akan selalu menemukan jiwamu.
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Kosmetik