Ini Baru Drama! Langit Yang Tak Bisa Lupa
Di antara hamparan Bukit Berbunga yang tak pernah lekang, hiduplah Aileen, seorang gadis dengan mata sebiru safir. Ia mengingat fragmen-fragmen masa lalu yang kabur, seperti mimpi yang mencoba merangkak keluar dari selimut kegelapan. Satu yang pasti, ia tak seharusnya berada di sini, di dunia roh yang magis ini.
Dunia manusia, tempat ia pernah menghembuskan napas terakhir, terasa seperti ilusi yang memudar. Kematiannya di sana, ternyata, bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju takdir yang tersembunyi. Di dunia roh, ia dipanggil "Cahaya yang Hilang", seorang yang diramalkan akan menyeimbangkan kembali harmoni antara dunia manusia dan dunia roh.
Atmosfer magis menyelimuti Aileen. Lentera-lentera terapung di Sungai Perak, cahayanya menari-nari di permukaan air, setiap kedipan memancarkan bisikan rahasia. Bayangan-bayangan di dinding Kuil Bulan berbicara, menceritakan kisah-kisah kuno tentang cinta terlarang dan pengkhianatan abadi. Dan di atas sana, Bulan, sang penyaksi abadi, berbisik namanya, "Aileen… Aileen… kembali ingatlah."
Pangeran Kai, penguasa dunia roh, terpesona oleh Aileen. Matanya yang sekelam obsidian memancarkan kesedihan yang mendalam, seolah ia memikul beban seluruh alam semesta. Ia melindunginya, membimbingnya, dan berusaha membangkitkan kenangan Aileen yang hilang. Kai bercerita tentang ramalan kuno, tentang "Ratu Cahaya" yang akan menyatukan kedua dunia dan mengakhiri perang abadi antara roh dan manusia.
Namun, ada sesuatu yang ganjil. Senyum Kai terasa terlalu dipaksakan, matanya menyembunyikan kegelapan yang mencurigakan. Bisikan bayangan-bayangan berubah menjadi ancaman. Lentera-lentera di sungai seolah berbisik, "Jangan percaya… jangan percaya…"
Aileen mulai meragukan segalanya.
Ia menemukan sebuah lukisan tersembunyi di perpustakaan kuno. Di sana, seorang wanita dengan mata sebiru safir, persis seperti dirinya, berdiri di samping seorang pria dengan tatapan dingin dan senyum licik. Di bawah lukisan itu tertulis, "LYRA, korban yang terlupakan."
LYRA. Nama itu menggema di benaknya, membangkitkan memori terpendam. Lyra adalah dirinya di kehidupan sebelumnya, kekasih Pangeran Kai. Namun, Lyra bukanlah "Ratu Cahaya" yang diramalkan. Ia hanyalah pion dalam permainan Kai untuk mendapatkan kekuasaan ABSOLUT. Kai membunuhnya, mengorbankannya untuk memicu perang antara dunia roh dan dunia manusia, dan kini, ia mencoba mengulang siklus itu dengan Aileen.
Ternyata, ramalan itu dipalsukan. Cinta Kai hanyalah KEBOHONGAN belaka.
Di tengah pertempuran epik antara pasukan roh dan manusia, Aileen menghadapi Kai. Ia menggunakan kekuatan Cahaya yang dimilikinya, kekuatan yang Kai inginkan, untuk membongkar kebohongannya di depan seluruh dunia. Kebenaran terungkap, Kai dikalahkan, dan harmoni kembali dipulihkan.
Namun, siapa sebenarnya yang mencintai? Bukan Kai, yang terobsesi dengan kekuasaan. Melainkan seorang pria sederhana, seorang penjaga gerbang di dunia roh, yang diam-diam mengagumi Lyra dari jauh. Ia rela mengorbankan segalanya demi melindunginya, bahkan setelah kematiannya. Dialah yang membisikkan nama Aileen ke Bulan, dialah yang mengirimkan petunjuk melalui bayangan-bayangan.
Dialah… sang penenun takdir sejati.
Aileen menatap langit yang tak bisa lupa, air mata mengalir di pipinya. Ia menyadari, cinta sejati tidak mencari kekuasaan, tetapi pengorbanan.
Dan di keheningan malam, ia membisikkan mantra perpisahan: "Debu bintang akan menuntunku kembali, jika takdir memanggilku lagi…"
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Jualan Online