**Air Mata yang Kumasak Jadi Racun** Di kota yang denyutnya *terputus-putus*, seperti sinyal Wi-Fi yang sekarat, aku menemukanmu, atau lebih tepatnya, bayanganmu. Namamu, mungkin, Aurora, atau mungkin bukan. Hanya debu digital yang terukir samar di layar ponselku yang retak. Cintamu adalah *CHAT* yang tak terkirim, pesan yang selamanya terjebak dalam mode 'sedang mengetik', sebuah janji yang berkedip-kedip di sudut mata. Aku, di sini, di reruntuhan memori, mengumpulkan pecahan masa lalu seperti kepingan keramik yang rapuh. Aku mencarimu di antara catatan harian yang lusuh, di balik foto-foto polaroid yang warnanya memudar, di dalam lagu-lagu lama yang liriknya sudah kulupa. Udara di sini beraroma nostalgia dan sesal. Setiap hembusan adalah bisikan kisah cinta yang tak pernah selesai. Langit di atasku adalah kanvas abu-abu, menolak fajar, menolak harapan. Matahari adalah mitos, sebuah dongeng yang diceritakan oleh kakek buyutku. Kau, di sisi lain, hidup di bawah neon futuristik, di antara gedung pencakar langit yang menembus awan polusi. Kau menari di pesta-pesta holografik, minum koktail dari kapsul, dan mencintai dengan algoritma. Aku menulis surat cinta dengan tinta yang dibuat dari air mata. Air mata yang *TERLALU LAMA* kupendam. Kau, mengirim pesan suara dengan suara yang disintesis. Aku mengirim merpati pos, kau mengirim drone. Kita berusaha menjembatani jurang, tetapi dimensi tampaknya bergurau, tertawa terbahak-bahak di wajah kita. Aku membuat racun dari air mata, menuangkannya ke dalam cawan, berniat mengakhiri penantian yang menyakitkan ini. Kau, mungkin, sedang merayakan ulang tahunmu yang ke-100 dengan kue digital yang rasanya seperti janji palsu. Suatu malam, sinyal aneh melintas. Layar ponselku berkedip-kedip. Sebuah pesan, *TERKIRIM*. Dari Aurora. Bukan, bukan Aurora yang kukenal. Aurora yang hidup di masa depan. Aurora yang kukagumi. Aurora yang adalah… *cucuku*. Rahasia ganjil ini terungkap perlahan, seperti bunga yang mekar di tanah tandus. Cinta kami bukanlah takdir, tetapi **ECHO**, gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, siklus abadi dari kerinduan dan harapan. Aku adalah nenek buyutmu, Aurora. Kau adalah pelengkapku. Kita adalah fragmen dari cerita yang sama, terpisah oleh waktu, terikat oleh luka. *Dan ketika layar ponsel itu benar-benar padam, aku hanya bisa membisikkan satu kalimat: "Jangan lupakan aku, sayang, bahkan jika dunia lupa bahwa kita pernah ada…"*
You Might Also Like: 94 Manfaat Produk Skincare Lokal Dengan
Share on Facebook