**Dendam Itu Memeluk Sebelum Membunuh, Karena Ia Pernah Menjadi Kasih** Embun pagi merayapi kelopak teratai di Danau Changping, sehalus sentuhan bibir yang dulu seringkali mengecup kening Bai Lianhua. Dulu, sebelum kebohongan itu menjadi tirai yang memisahkan dunia mereka. Dulu, sebelum aroma cendana di kuil menjadi saksi bisu pengkhianatan. Lianhua, yang berarti bunga teratai putih, kini layu. Di balik jubah brokat hijaunya yang mahal, tersembunyi hati yang remuk redam. Ia hidup dalam kebohongan yang ia tenun sendiri, benang demi benang, demi melindungi *rahasia* yang kelak akan merenggut segalanya. Ia adalah Putri Kesayangan Kaisar, calon permaisuri, wanita dengan *segala* di genggamannya. Namun, jiwanya adalah tawanan masa lalu. Sementara itu, di balik gerbang istana yang menjulang, berdiri Xiao Feng. Bayangannya memanjang di atas paviliun, matanya setajam elang, dipenuhi *kobaran api* dendam. Ia datang bukan sebagai pedagang kain sutra dari kota selatan, bukan pula sebagai penyair yang mencari inspirasi. Ia datang sebagai pedang yang diasah bertahun-tahun, siap menebas kebohongan sampai ke akarnya. Dulu, ia adalah kekasih Lianhua. Dulu, mereka berjanji di bawah pohon sakura yang mekar, mengukir nama mereka di kulit kayu yang rapuh. Dulu, mereka adalah dua jiwa yang saling menemukan di tengah riuhnya dunia. Tapi 'dulu' hanyalah bayangan masa lalu, kini yang tersisa hanyalah *dendam membara*. Setiap senyum Lianhua, setiap sapuan kuasnya di atas lukisan, adalah siksaan bagi Xiao Feng. Ia melihat bayangan cinta yang hilang di balik topeng kebahagiaannya. Ia merasakan denyut nadi kebohongan dalam setiap kata yang Lianhua ucapkan. Semakin dalam ia menyelami istana, semakin ia menemukan *kepingan kebenaran* yang mengarah pada satu nama: Bai Lianhua. "Kau tahu, Xiao Feng," bisik Lianhua suatu malam di bawah rembulan yang pucat, "Kebahagiaan adalah ilusi. Kita mengejarnya, namun hanya menemukan kehampaan." Suaranya bergetar, seolah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. "Ilusi yang kau ciptakan sendiri, Lianhua," balas Xiao Feng dengan nada pelan namun menusuk. "Dan aku di sini, untuk menghancurkan ilusi itu." Konflik demi konflik terjalin seperti simpul yang semakin mengencang. Pertemuan rahasia di taman bunga, surat-surat tersembunyi di balik rak buku, tatapan mata yang mengandung ribuan pertanyaan tak terjawab. Xiao Feng memainkan perannya dengan sempurna, merayapi hati Lianhua, memancingnya keluar dari cangkang kebohongan. Ia tahu, Lianhua masih mencintainya. Cinta itulah yang akan menjadi senjatanya. Puncaknya terjadi saat Festival Bulan Purnama. Di tengah pesta yang meriah, di bawah gemerlap lampion, Xiao Feng membongkar semuanya. Di hadapan Kaisar, di hadapan seluruh istana, ia membuka tabir kebohongan yang selama ini menyelimuti Lianhua. "Putri Kesayangan ini telah membunuh saudaramu, Pangeran Mahkota! Ia melakukannya demi tahta, demi kekuasaan! Ia melakukannya untuk menjadi Ratu!" teriak Xiao Feng, suaranya menggema di seluruh istana. Lianhua terdiam, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia tidak menyangkal. Ia mengakui semuanya. Balas dendam Xiao Feng bukan dengan pedang atau racun. Ia melakukannya dengan *kebenaran*. Kebenaran yang menghancurkan reputasi Lianhua, merenggut tahtanya, dan membuangnya dari istana. Ia membiarkan Lianhua hidup, namun dengan *jiwa yang mati*. Xiao Feng menatap Lianhua untuk terakhir kalinya, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Dendamku telah selesai, Lianhua. Aku memelukmu sebelum membunuhmu, karena kau pernah menjadi kasihku." Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lianhua yang berdiri terpaku di tengah reruntuhan hidupnya. Apakah cinta yang dulu pernah ada, cukup untuk menghapus luka yang menganga?
You Might Also Like: 157 How To Develop Realistic Characters
Share on Facebook