Oke, ini dia cerita pendek bergaya *dracin* (drama China), dengan nuansa lirih dan penuh penyesalan: **Dendam Itu Memeluk Sebelum Membunuh, Karena Ia Pernah Menjadi Kasih** Desiran angin malam menyapu halaman kediaman keluarga Wei, membawa serta aroma bunga *plum* yang mekar di tengah musim dingin. Cahaya bulan menerobos celah awan, memantulkan kilaunya pada bilah *guqin* yang tergeletak di pangkuanku. Nada-nada yang keluar, lirih dan sendu, seolah mewakili hati yang telah lama retak. Lima belas tahun lalu, aku adalah Wei Lian, pewaris tunggal keluarga Wei yang berjaya. Dia, Lin Yue, adalah cahaya hidupku, rembulan di tengah kegelapan. Kami bersumpah untuk saling mencintai, melampaui batas kasta dan intrik politik. Namun, janji itu hancur berkeping-keping di malam pesta ulang tahunku. Lin Yue, dengan air mata mengalir di pipinya, mengakui bahwa ia *terpaksa* menikahi Wei Cheng, adik tiriku, demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan. Aku terdiam. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku menyimpan rahasia yang jauh lebih besar: aku tahu Wei Cheng menggunakan cara kotor untuk menjebak keluarga Lin. Jika aku mengungkapkannya, bukan hanya keluarga Lin yang hancur, tapi juga... ibuku. Aku memilih **diam**. Aku menyerahkan segalanya. Kekuasaan, cinta, kebahagiaan. Aku melepaskan gelar pewaris, lalu mengasingkan diri ke kediaman terpencil ini. Aku hanya ingin melupakan. Tapi, *dendam* adalah benih yang ditanam di tanah hati yang terluka. Ia tumbuh perlahan, tanpa disiram air mata, namun akarnya menghunjam dalam. Bertahun-tahun berlalu. Keluarga Wei semakin berjaya di bawah kepemimpinan Wei Cheng. Sementara Lin Yue, meskipun hidup bergelimang harta, tampak semakin layu. Matanya kehilangan binar, senyumnya hambar. Aku melihatnya dari kejauhan, merasakan sakit yang sama, namun tak berdaya. Namun, ada satu hal yang membuatku *curiga*. Setiap kali Lin Yue menjenguk ibuku yang sakit-sakitan (dan hampir pikun), ia selalu membawa *plum* putih. Bukan *plum* merah yang menjadi favorit ibuku. Awalnya, aku mengira itu hanya kebetulan. Namun, frekuensi itu... aneh. Misteri ini baru terpecahkan beberapa minggu lalu. Saat membersihkan kamar ibuku, aku menemukan secarik kain sutra yang lusuh. Di atasnya, terukir untaian kata dalam *aksara rahasia* yang hanya kami berdua yang tahu: *"Plum putih adalah kode. Racun itu ada di sana."* **RACUN!** Lin Yue *meracuni* Wei Cheng! Dendamnya lebih dalam dari yang kubayangkan. Ia membiarkan Wei Cheng menikmati kekuasaan dan kemewahan, namun perlahan-lahan merenggut nyawanya. Aku mengerti sekarang. Ia memilih jalan sunyi yang sama denganku: menghancurkan tanpa kekerasan, dengan takdir yang berbalik arah. Aku tidak melakukan apa pun. Aku membiarkan takdir berjalan. Wei Cheng meninggal dunia seminggu kemudian, dalam keadaan yang mengenaskan. Keluarga Wei terpecah belah. Kebenaran tentang kejahatannya akhirnya terungkap, menghancurkan reputasi keluarga yang telah dibangun dengan susah payah. Keluarga Lin pun dibebaskan dari hutang-hutangnya, meskipun harus menanggung kesedihan yang mendalam. Lin Yue datang menemuiku tadi sore. Matanya kosong. Ia tidak meminta maaf, tidak juga menyesal. Ia hanya menyerahkan sehelai *sapu tangan* berlumuran darah, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Aku tahu, ia akan segera menyusul Wei Cheng. Aku kembali memetik *guqin*. Nada-nada yang keluar kini bukan lagi lirih, melainkan sebuah *ratapan* yang memilukan. Dendam itu memang memeluk sebelum membunuh, karena ia pernah menjadi kasih. Takdir telah menuntaskan tugasnya, dengan pahit namun... entah kenapa, terasa begitu indah. Dan kini, aku bertanya-tanya, apakah yang kubuat ini adalah pengorbanan yang sia-sia, atau justru, sebentuk *keadilan* yang abadi...
You Might Also Like: Panduan Rekomendasi Skincare Lokal
Share on Facebook