## Pelukan yang Menyisakan Aroma Dendam Hujan kota selalu mengingatkannya pada kopi hangat dan *tatapan* Lian, di sebuah kafe sudut jalan yang kini hanya menjadi kenangan dalam galeri ponselnya. Notifikasi terakhir dari Lian muncul dua tahun lalu: "Aku pergi. Maaf." Tanpa penjelasan, tanpa salam perpisahan yang layak. Hanya dua kata yang menggantung, seperti tetesan air hujan di ujung daun, siap jatuh dan menghilang. Aroma kopi kini terasa pahit di lidah Han, bukan lagi manis seperti dulu. Setiap kali aroma itu menyeruak, bayangan Lian muncul: rambut panjang yang selalu berantakan, senyum miring yang menawan, dan mata yang menyimpan *RAHASIA*. Han mencoba menghapus bayangan itu, menggantinya dengan wajah-wajah baru di aplikasi kencan, tetapi hasilnya nihil. Semua terasa hampa, seperti chat yang tak terkirim, tersimpan dalam draft, menunggu momen yang tak pernah datang. Han mendapati dirinya terus menyelami sisa-sisa percakapan mereka. Setiap *emoticon* hati yang dikirim Lian terasa seperti sindiran pedih, setiap janji terasa seperti pengkhianatan. Ia menemukan sebuah pola, petunjuk samar yang selama ini luput dari perhatiannya. Nama seorang pria muncul berulang kali dalam obrolan mereka: "A", hanya inisial, tetapi cukup untuk membangkitkan amarah yang selama ini ia pendam. Pencarian Han membawanya pada sebuah kenyataan pahit. "A" adalah atasan Lian, pria beristri yang berkuasa dan kaya. Lian telah menjadi korban dari cinta terlarang, terjebak dalam jaring manipulasi dan janji palsu. Pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri, meskipun itu berarti meninggalkan Han dalam kebingungan dan kesedihan. Dendam tumbuh di hati Han, bukan dendam yang membara, melainkan dendam yang lembut, dingin, dan kalkulatif. Ia tahu, membalas dendam dengan kekerasan hanya akan membuatnya sama rendahnya dengan "A". Ia memilih jalan yang lebih elegan, lebih menyakitkan. Han menggunakan koneksi yang dimilikinya untuk mengungkap kebobrokan "A". Ia mengumpulkan bukti korupsi dan penyelewengan yang dilakukan "A", memberikannya pada pihak berwajib. Dalam waktu singkat, reputasi "A" hancur. Ia kehilangan pekerjaannya, hartanya, bahkan keluarganya. Han menyaksikan kejatuhan "A" dari jauh, tanpa menunjukkan emosi apa pun. Ia merasa lega, tetapi juga kosong. Balas dendam memang manis, tetapi tidak mengisi kekosongan di hatinya. Ia tetap merindukan Lian, merindukan aroma kopi yang dulu terasa manis. Suatu sore, Han menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Isinya hanya satu kata: "Terima kasih." Han tahu, itu dari Lian. Ia membalas dengan satu *emoticon* senyum. Kemudian, Han menghapus semua foto Lian dari ponselnya. Ia menghapus semua chat mereka. Ia menghapus semua jejak Lian dari hidupnya. Ia pergi ke kafe sudut jalan yang dulu menjadi tempat favorit mereka. Ia memesan kopi hitam tanpa gula. Ia duduk di meja yang sama, menatap hujan yang turun. Ia tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang penuh kemenangan, tetapi juga senyum yang penuh kesedihan. Ia tahu, Lian sudah bebas. Ia juga bebas. Ia berdiri, meninggalkan kopi yang belum habis di meja. Ia melangkah keluar, menuju masa depan yang tidak pasti. Dan *DI JALAN ITU, IA BERBISIK*: "Aku harap kamu bahagia…"
You Might Also Like: Master Computer Fundamentals For
Share on Facebook