Dracin Populer: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih
Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih
Kabut menggantung tebal di puncak Gunung Qingcheng, menyelimuti kuil-kuil kuno yang tersembunyi di baliknya. Angin dingin berdesir melalui pepohonan bambu, menciptakan melodi sunyi yang menusuk tulang. Di tengah keheningan itu, suara seruling bernada sendu terdengar dari sebuah paviliun terpencil.
Di dalam paviliun, seorang wanita berpakaian serba hitam duduk bersimpuh di depan laptop. Wajahnya, pucat dan dingin seperti batu giok, diterangi oleh cahaya layar. Ia tengah melakukan streaming lagu-lagu balada Mandarin yang menyayat hati. Jutaan penonton menyaksikan, terhanyut dalam kesedihan yang terpancar dari setiap nada.
Ia dikenal dengan nama samaran Yè Míng (夜明), Malam yang Terang. Dulu, ia adalah Li Wei, pewaris tunggal Keluarga Li yang kaya raya, yang dinyatakan tewas dalam kecelakaan kapal lima tahun lalu.
Tiba-tiba, di kolom komentar, sebuah nama muncul: Lóng Jùn (龙俊).
Jantung Yè Míng berdebar kencang. Lóng Jùn… nama itu adalah duri yang menusuk relungnya. Lóng Jùn, tunangannya, orang yang paling dicintainya… dan orang yang dicurigai telah mengatur kecelakaan itu.
Lóng Jùn menulis: "Wei… apakah itu kau? Aku tahu kau masih hidup. Aku mendengar suaramu di balik setiap lagu."
Yè Míng membeku. Ia tidak membalas. Kabut di sekeliling paviliun terasa semakin pekat, seolah mencoba menelan keberadaannya.
Beberapa hari kemudian, Lóng Jùn datang ke kuil tempat Yè Míng bersembunyi. Ia berdiri di depan paviliun, tatapannya penuh kerinduan dan penyesalan.
"Wei," panggilnya, suaranya bergetar. "Aku tahu kau di sini. Aku tahu kau masih marah padaku."
Yè Míng keluar dari paviliun, bayangan gelap menyelimuti wajahnya. "Marah?" ia bertanya, suaranya lembut seperti desiran sutra, namun mematikan seperti racun. "Kau pikir aku hanya marah?"
Lóng Jùn melangkah maju, mencoba meraih tangannya. "Aku tidak bermaksud menyakitimu. Ayahku…"
"Ayahmu?" Yè Míng memotongnya. "Ayahmu hanya boneka. Kau yang menarik semua tali, Lóng Jùn. Kau yang menginginkan warisanku, kekuasaan Keluarga Li. Kau merencanakan semuanya, bukan?"
Lóng Jùn terhuyung mundur. "Tidak! Aku bersumpah…"
Yè Míng tertawa pelan, tawa dingin yang membuat bulu kuduk Lóng Jùn meremang. "Bersumpah? Sumpahmu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku sudah mati, Lóng Jùn. Li Wei sudah mati. Dan sekarang… Yè Míng akan memastikan keadilan ditegakkan."
Ia melangkah maju, memperlihatkan sebuah pisau belati yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Cahaya bulan memantul dari bilahnya yang tajam.
"Kau tahu, Lóng Jùn," bisiknya, mendekatkan bibirnya ke telinga Lóng Jùn. "Kematian Li Wei memang tragis. Tapi kebangkitan Yè Míng… itu adalah sebuah maharkarya."
Lóng Jùn menatap Yè Míng dengan ngeri. Ia melihat kebencian dan perhitungan di mata wanita yang dulu sangat dicintainya. Ia menyadari, terlalu terlambat, bahwa ia telah memainkan perannya dalam drama yang ditulis oleh orang yang ia kira telah ia bunuh.
Yè Míng menjauhkan diri, membuang pisau belati ke tanah. "Kau tidak pantas mati di tanganku. Kau akan hidup, Lóng Jùn. Hidup dalam penyesalan dan kehancuran, menyaksikan kerajaanmu runtuh di hadapanmu."
Kemudian, ia berbalik dan menghilang ke dalam kabut, meninggalkan Lóng Jùn sendirian di bawah rembulan, dihantui oleh kebenaran yang mengerikan: yang mati justru menghidupi mimpi buruk terbesarnya.
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Jualan Online Mudah