Cerpen Terbaru: Bayangan Yang Menuntun Ke Jurang
Bayangan yang Menuntun ke Jurang
Embun pagi menggantung di kelopak mawar, serupa air mata yang belum tuntas jatuh. Di balik jendela istana megah, Lian Xi tersenyum. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, menyembunyikan jurang dalam hatinya. Dia, pewaris takhta yang dicintai rakyat, hidup dalam kebohongan. Kebohongan yang dirajut ibunya, kebongongan yang melindunginya dari masa lalu kelam.
Sementara itu, di balik tembok istana, tumbuhlah seorang pria bernama Wei. Wei adalah bayangan. Bayangan dari masa lalu Lian Xi, masa lalu yang DIHAPUS paksa. Dia mencari kebenaran, serpihan ingatan yang tercecer di antara puing-puing tragedi. Setiap langkahnya bagai mendaki gunung terjal, di mana setiap batu adalah duri yang siap merobek hatinya. Kebenaran yang dia cari adalah pedang bermata dua, yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan.
"Putri, hari ini adalah hari kebahagiaanmu," ucap Ibu Suri, suaranya lembut namun dingin. Lian Xi hanya mengangguk. Dia akan menikah dengan Pangeran dari Kerajaan Utara, sebuah aliansi politik yang menjamin keamanan kerajaannya. Tapi setiap kali melihat cermin, dia melihat bayangan lain, bayangan seorang gadis kecil berlumuran darah.
Wei, dengan bantuan seorang tabib tua yang setia, menemukan petunjuk. Sebuah lukisan usang, sebuah melodi pengantar tidur, dan sepotong kain bersulam benang perak. Setiap petunjuk membawanya semakin dekat ke istana, semakin dekat ke Lian Xi. Semakin dekat ke jurang.
Konflik memuncak saat Wei berhasil menyusup ke pesta pernikahan Lian Xi. Di tengah gemerlap lampu dan riuhnya musik, dia berteriak, "LIAN XI! INGATLAH!"
Lian Xi terhuyung. Suara itu, suara yang MENGGEMA di benaknya. Kilasan-kilasan masa lalu menerjangnya bagai badai. Pembantaian, pengkhianatan, dan wajah ibunya yang penuh amarah. Kebenaran itu pahit, kejam, MENGHANCURKAN.
Ibu Suri memerintahkan pengawal untuk menangkap Wei. Lian Xi, dengan air mata berlinang, mengangkat tangannya. "Hentikan!"
Di hadapan seluruh tamu undangan, dia membuka kedok. Dia menceritakan kebenaran, bagaimana ibunya membantai keluarganya sendiri demi merebut takhta, bagaimana dia dipaksa hidup dalam kebohongan.
"Aku, Lian Xi, menolak mahkota ini! Aku menyerahkan diriku pada keadilan!"
Ibu Suri terhuyung mundur, matanya dipenuhi ketakutan. Rencana yang disusunnya bertahun-tahun hancur berkeping-keping.
Balas dendam Lian Xi bukan dengan amarah dan pedang, melainkan dengan kedamaian dan pengorbanan. Dia memilih mengasingkan diri, meninggalkan kerajaannya, membiarkan rakyatnya memilih pemimpin yang adil. Sementara Ibu Suri diadili dan dihukum, namun Lian Xi tidak merasa puas. Hatinya sudah lama mati.
Di perbatasan kerajaan, Lian Xi berbalik menatap istana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang menyimpan perpisahan selamanya.
Dan, siapa sebenarnya Wei, pria yang rela mempertaruhkan nyawanya demi mengungkap kebenaran?
You Might Also Like: Arti Mimpi Diserang Kambing Etawa Wajib